Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 diperingati pada 2 Mei 2026 dengan tema "Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua". Momentum ini meneguhkan komitmen pendidikan Indonesia dengan meneladani Ki Hajar Dewantara, difokuskan pada penguatan partisipasi publik, pemerataan mutu pendidikan, dan karakter. Sumber by google
Tampilkan postingan dengan label Hari Peringatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Peringatan. Tampilkan semua postingan
Teks Sumpah Pemuda
Isi Sumpah Pemuda terdiri dari tiga ikrar utama:
Bertumpah darah yang satu: "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia."
Berbangsa yang satu: "Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia."
Berbahasa yang satu: "Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia."
R.A Kartini merupakan putri dari seorang patih bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.
Ayahnya, dari patih kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara.
Kartini yang lahir 21 April 1879 ini dikenal sebagai wanita yang jadi pelopor kesetaraan derajat wanita dan pira di Indonesia.
Jika ditulusuri, silsilah keluarga sang ayah bisa sampai ke Hamengkubuowo IV.
Garis keturunan Sosroningrat juga bisa ditelusuri hingga masa Kerajaan Majapahit.
Ayah RA Kartini awalnya hanya seorang wedana (pembantu bupati) di Mayong, Jepara.
Saat itu, kolonial Belanda mewajibkan siapapun yang jadi bupati, harus memiliki darah bangsawan sebagai istrinya.
Namun, ibu Kartini, M.A Ngasirah bukan bangsawan.
M.A. Ngasirah merupakan istri pertama dari Sosroningrat yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara.
Karina Ngasirah bukan seorang bangsawan, ayah Kartini kemudian menikah lagi dengan Raden Adjeng Moerjam.
Radeng Adjeng Moerjam merupakan wanita yang memiliki keturunan langsung dari Raja Madura.
Pernikahan tersebut juga langsung mengangkat kedudukan ayah Kartini menjadi bupati, menggantikan ayah dari R.A. Moerjam, yaitu Tjitrowikromo.
Perjuangan R.A Kartini
Mengutip dari grid.id, diketahui bahwa di masa penjajahan Belanda, tidak semua anak bisa mendapatkan pendidikan yang layak.
Budaya patriarki masih melekat di tanah Jawa, maka dari itu para kaum wanita memiliki kewajiban untuk mengurus rumah dan tidak diperbolehkan memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari kaum pria.
Karena hal itulah, setelah usia 12 tahun, R.A Kartini harus berhenti bersekolah karena harus mengikuti budaya yang berjalan.
Karena tetap semangat mencari ilmu, Kartini tetap berjuang untuk mendapatkan pengetahuan dari rumahnya.
Maka selama ia di rumah dan tidak bersekolah, ia tetap rajin mencari ilmu, dengan bertukar pikiran dengan teman-temannya melalui surat.
R.A Kartini juga gemar membaca buku-buku kebudayaan Eropa seperti buku karya Louis Coperus yang berjudul Des Stille Kraacht.
Kegemarannya dalam membaca buku, membuat wawasan Kartini menjadi lebih terbuka.
Kemudian muncul pemikiran ingin memperjuangkan haknya sebagai perempuan.
Kartini mulai memberi perhatian lebih pada adanya gerakan emansipasi wanita.
Menikah dengan KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat
R.A Kartini pada tahun 1903 pun menikah dengan Bupati Rembang, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.
Lalu, ia memutuskan untuk mendirikan sekolah wanita.
Tujuan Kartini mendirikan sekolah tersebut adalah untuk memberikan kebebasan pendidikan bagi wanita pribumi.
Namun, pada 17 September 1904, R.A Kartini menghembuskan napas terakhirnya setelah melahirkan anak pertamanya, Soesalit Djojoadhiningrat.
Surat Peninggalan R.A Kartini
Banyaknya surat-surat Kartini saat ia muda menginspirasi banyak wanita Indonesia karena berisikan tentang perjuangannya mengenai status sosial hak para wanita pribumi.
Bukti perjuangan R.A Kartini tersebut kemudian disusun sebagai buku.
Buku tersebut dikenal dengan judul Door Duisternis tot Licht atau dalam bahasa Indonesia "Habis Gelap Terbitlah Terang".
Sejarah perjuangan R.A Kartini hingga saat ini masih dikenang, terkhusus pada saat Hari Kartini 21 April.
Sumber: tribunnews.com
Sumpah Pemuda adalah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Wikipedia
Ikrar atau Sumpah Pemuda:
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kontak Kami
Sejarah Sekolah
SD No. 4 Kuta, yang dulu bernama SD No. 6 Kuta berlokasi di Jalan Dewi Sartika Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung, terletak di dekat Pantai Kuta dan merupakan daerah pariwisata. Secara geografis SD No. 4 Kuta berada di ibu kota kecamatan, jarak ke ibu kota relatif dekat yaitu 17 km yang dapat ditempuh dengan perjalanan selama 30 menit.
SD No. 4 Kuta didirikan pada tanggal 25 April 1974 dengan SK Gubernur Bali Nomor 35/PD/22/1974 tanggal 1 Juli 1974, dan berdiri di tanah seluas 2.180 m2 yang merupakan milik pemerintah Kabupaten Badung dan sudah bersertifikat.
SD No. 4 Kuta memiliki luas tanah 21,8 Are, dengan batas-batas sebagai berikut :
Sebelah utara : Ramayana Resort and Hotel
Sebelah timur : SMP Sunari Loka Kuta
Sebelah Selatan : Perumahan Penduduk
Sebelah Barat : Kuta Paradiso Hotel, Pantai Kuta
Awal berdirinya SD No. 4 Kuta yang menjabat sebagai Kepala Sekolah adalah sebagai berikut:
I Gusti Made Mayun ( Tahun 1974 s.d. 1980 )
Drs. I Gusti Made Predi ( Tahun 1980 s.d. 1990 )
I Made Redyana ( Tahun 1990 s.d. 1991 )
I Gusti Made Puja ( Tahun 1991 s.d. 2001 )
Drs. Gusti Agung Made Subawa ( Tahun 2001 s/d 2003 )
Ni Made Kariati, S.Pd. ( Tahun 2003 s/d 2018 )
Dra. Ni Ketut Armini, M.Pd. ( Tahun 2018 s/d 2025)
I Nengah Suarjana, S.Pd. ( Tahun 2025 sampai sekarang)
Categories
SD No. 4 Kuta. Diberdayakan oleh Blogger.
Arsip Blog
-
▼
2026
(8)
- ► April 2026 (5)
- ► Januari 2026 (2)
-
►
2025
(21)
- ► Desember 2025 (4)
- ► Oktober 2025 (3)
- ► Agustus 2025 (2)
- ► April 2025 (3)
-
►
2024
(3)
- ► Oktober 2024 (1)
- ► Maret 2024 (2)
-
►
2022
(27)
- ► Agustus 2022 (1)
- ► April 2022 (2)
- ► Maret 2022 (1)
- ► Februari 2022 (4)
- ► Januari 2022 (7)
-
►
2021
(17)
- ► Oktober 2021 (10)
- ► September 2021 (7)


